Saturday, March 3, 2012

Malaysia Trip Day 4th: Petronas Tower & Party @Changkat

Waahh maaf ya telat banget postin catatan perjalanan hari keempat di Malaysia.

Hmm, Apa rasanya berada di ketinggian 378.6 m di atas permukaan tanah? Well, kalian boleh bertanya kepada saya :)

Awalnya, saya agak malas diajak ke Petronas Tower, buat apa sih masuk-masuk ke gedung tertinggi di Malaysia?
Kemudian, berkat Bin, saya menjadi tergiur untuk mencobanya.

Kami bertemu Bin kembali, setelah semalam bertemu di Midvalley. Hari itu adalah pertemuan kedua kami dengan Bin.
Berkat Bin, kami berhasil mendapat tiket masuk Petronas Tower seharga RM20 (harga lokal), sedangkan untuk turis perlu membayar RM40.
Gimana saya tidak tergiur dengan harga miring itu?
Belum lagi, kami tidak perlu ngantri! Untuk mendapatkan tiket ini aja, pengunjung perlu ngantri dari subuh, karena setiap harinya hanya 1000 tiket yang dijual.
Waah..
Perjalanan kali ini, saya diperkenalkan dengan orang baru lagi, namanya Krisna, dia bergabung dengan kami untuk naik ke Petronas Tower.
Sedikit tentang Krisna, dia itu mahasiswa pariwisata, asal Bandung, yang sedang magang di hotel yang terletak persis di sebelah Petronas Tower.

Saat dalam antrian untuk masuk ke Skybridge, kami melalui pemeriksaan yang cukup ketat, seperti di bandara.
Sebagian besar visitornya adalah turis. Kalau dilihat dari tampilannya sih, turis-turis ini bertampang orang menengah ke atas. Jarang saya lihat ada bule backpaker ke sini, apalagi mengingat harganya yang kelewat mahal.
Sebelum naik ke skybridge kami diberi pengantar oleh manusia hologram. Itu lho manusia yang bersuara dari cahaya, keren banget deh.
Kalau tangan kita disentuhkan ke manusia hologram ini, yang ada cuma angin doang.
Baru kali ini saya megang manusia hologram, norak!
I'm on the 86th floor. wow!

Apa yang bisa kalian lihat dengan tiket seharga RM20 itu?
Saya dapat naik ke Skybridge, jembatan Petronas Tower yang terkenal itu, letaknya ada di lantai 41. Di sana kita bisa lihat pemandangan dan foto-foto doang, ya iyalah mau ngapain lagi coba? main congklak?
Kami diberi waktu sekitar 20 menit untuk melihat-lihat kemewahan Skybridge Petronas Tower yang terkenal ini.
Setelahnya, kami digiring ke lantai 86. Lantai tertinggi di Petronas yang boleh dimasuki pengunjung.
the view from the upper floor
Di lantai 86 ini saya dapat melihat miniatur Petronas Tower, ada teropong jarak jauh, yah kurang lebih seperti museum kecil tentang Petronas Tower.

Sekeluarnya dari sana, kami segera berjalan-jalan melihat keindahan taman di depan Petronas Tower, katanya air mancur di sana kalau malam indah sekali. Sayang kami datangnya pas siang-siang terik gitu. Panas!
Tapi, rasa panas itu tidak menyurutkan semangat kami untuk foto-foto.

Destinasi selanjutnya, seharusnya adalah Batu Caves. Saya dan Dzi akhirnya memilih untuk ke Times Square, dan Atha dan Firly (temennya Atha) ke Batu Caves.
Ada beberapa alasan saya tidak ke sana. Pertama, kondisi saya agak lelah saat itu. Perjalanan 4 jam pulang pergi lebih baik saya manfaatkan untuk istirahat di hostel.
Hostel?
iya, hari itu kami sengaja tidak nge-couch. Kami ingin mencicipi rasanya hostel di pusat kota. Berkat bantuan Bin, kami mendapat sebuah kamar untuk 3 orang, dengan AC, bersih, dan murah.
Untuk, review hostel Monkey Inn bisa baca di sini aja.

Ada alasan lain saya harus ke Times Square, karena saya ingin membelikan sepatu untuk mama. Saya sudah janji, kalau pulang tidak membawa sepatu, bisa saja sih, cuma saya merasa tidak enak.
Dari KL Sentral ke Times Square, kami naik monorail. Time Square itu adalah mall yang kelasnya menengah. Barang-barang murah masih dapat ditemukan di sini. Tidak seperti di Midvalley atau Bangsar City Center.
Ada banyak barang-barang Korea. Murah-murah. Kalau boleh dicarikan padanannya, Times Square lebih seperti Tanah Abang atau Mangga Dua, dalam versi yang lebih bersihan sedikit. hehe
Panpan and me :)

Di Times Square, saya membuat janji untuk bertemu Pan Pan, seorang cewek cina-malaysia. Dia juga teman Bin. Kami ngobrol dan jalan bareng di mall itu. Pan Pan juga menemani kami kembali ke hostel. Saat Pan Pan bertemu Bin di hostel kami, mereka langsung berbicara dalam bahasa Mandarin. hahaha roaming deh!

Sorenya, Saya, Dzi, Atha, dan Bin, keliling-keliling KL sebentar, kami mengunjungi Masjid Jamek, Dataran Merdeka, dan lain-lain. Dari Chinatown tempat di mana kami menginap, kalian bisa berjalan kaki ke banyak tempat terkenal.
Kami makan malam di restauran India-Muslim "Nagasari". Dari Chinatown ke sana. kami naik taksi, tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10 menit.
Malam itu ada dinner gathering bareng CS Malaysia. Sebelum masuk ke restoran, saya sempat deg-deg-an, maklum bakal ketemu banyak orang baru.
Ketika pintu restoran saya buka, waah benar saja. Seluruh mata dari berbagai bangsa di penjuru dunia melihat kami. Banyak banget yang datang! Ada sekitar 20 orang lebih. Semakin malam, semakin banyak yang datang dan berkumpul untuk makan malam.
Saya berkenalan dengan banyak orang-orang baru, sebut saja Prancis, Jerman, US, Iran, Malaysia, Indonesia, China, dll. Wah semua orang datang dari berbagai penjuru. Kami saling bertukar informasi dan berkenalan.
Entah apa, saya merasa CS Kuala Lumpur lebih hangat daripada CS Jakarta. (well, cuma opini aja).


having a glass of beer with Bin.
Malam semakin larut, dari Nagasari kami pindah ke sebuah Irish bar. Di sana saya kembali banyak bertemu dengan orang-orang baru. Sebagian besar bule-bule traveler, sempat sih sekali dua kali flirting ke beberapa cowok di sana. hahaha :)
Sewaktu saya sedang ngobrol dengan seorang cowok Prancis, tiba-tiba saya melihat dua bule traveler yang kemarin bertemu di Melaka. Sontak saya berteriak, "Ana! Arthur!" terus kami langsung ngobrol.
Ana mulai sibuk dengan teman barunya, akhirnya saya, Arthur, dan satu cowok Prancis lain saling berbincang. Haha dua cowok Prancis ini mulai berbincang dalam bahasa ibu mereka, saya cuma bisa cengo.
"What are you guys talk about?" tanya saya setengah mabuk.
"we are talking about you" kata salah satu dari mereka.
Saya senyum-senyum sendiri, haha :)

Dentuman musik di bar semakin kencang, saya minum gelas demi gelas, saya sudah mulai agak sempoyongan. Akhirnya, Bin (cowok Malaysia) dan Omid (cowok Iran) mengajak saya dan Atha keluar dari bar, dan kami mencari makanan berat. Saya dan Atha makan bubur Thailand, ternyata buburnya bentuknya beda, jadi seperti makan nasi pakai kuah, bukan seperti bubur. Aduh, nggak lagi-lagi deh order bubur thailand. hehe..

Setelahnya, saya pulang ke hostel diantar Bin dengan motornya. dan malam itu saya pulang dengan riang, super riang :))

terima kasih Bin, dan semuanya!

Kalau mau lihat album foto selama di KL hari keempat, bisa mampir ke sini.

Sunday, January 29, 2012

Malaysia Trip Day 3rd: Iranian hospitality

Perpisahan dengan Nuno membawa suasana mood saya agak galau-galau gimana gitu,
ditambah, bus yang kami tumpangi sepanjang jalan menyetel lagu-lagu galau Melayu. Gangges banget, alias ganggu!
Tidur nggak bisa, mau ngobrol sama Atha juga gak bisa, dia mau tidur.
Akhirnya, pasang headset, volume digedein, dengerin lagu-lagu galau yang ada di HP, it was much better than that Malay songs. Trust me.

Oke, penderitaan saya mendengarkan tembang-tembang Melayu cukup berlangsung selama 2 saja!!! gila berasa 2 abad!
Melaka--Kuala Lumpur,
tibalah kami di TBS (Terminal Bersepadu Selatan).


Boleh bilang saya norak, saya tercengang sewaktu tiba di terminal ini. Ya, kalian boleh mengucek-ngucek mata, dan terimalah kenyataan ini, bahwa gambar di atas adalah sebuah TERMINAL BUS!!!
terminal ini adalah terminal terbesar di Kuala Lumpur, dan masih baru. Terminal lamanya bernama Puduraya, yaaah kondisinya saat ini kotor-kotor gimana gitu, hampir sama lah kayak di Jakarta. Saya salut banget sama terminal bus KL, keren!!! kapan ya Indonesia bisa punya terminal bus yang ada ruang tunggu ber-AC, bersih, besar, nyaman, udah kayak bandara aja.. :)

Hari itu kami akan bermalam di rumah seorang kenalan saya bernama Zohre. Ia tinggal di Serdang Condominium, sebuah kawasan apartemen yang mayoritas dihuni oleh orang Iran, dan orang-orang Timur Tengah lainnya.

Waktu pertama kali ketemu Zohre, adegannya sama persis saat saya bertatap muka dengan Zaki. Si Zohre itu cantik banget! Kecantikan ala cewek-cewek Timur Tengah, kulit putih, hidung mancung, senyumnya sempurna. oke banget!

Zohre menyambut kami bertiga dengan senyum yang sumringah. Sebenarnya dia lagi sibuk dengan tugasnya yang numpuk, tapi dia bela-belain untuk menyambut kami. Saya benar-benar tergugah dengan keramahannya. Apalagi saat dia menyuguhkan kami Iranian Black Tea sebagai welcome drink kami.
Zohre dengan bangga, tanpa bermaksud pamer, dia sangat senang memperkenalkan kebudayaan Iran kepada kami. Zohre mengajarkan kami bagaimana cara minum teh ala Iran. Jadi, ada gula balok putih, mereka menyebutnya Iranian sugar, lalu gula itu dimasukkan ke mulut, seperti memakan permen, sedikit demi sedikit minum tehnya.
Rasanya hangat dan menyenangkan.

Setelah berbincang-bincang dengan Zohre, kami diajak bergabung untuk makan siang. Kebetulan mama Zohre sedang memasak masakan Iran. Namanya Adaz Pulo. Sejenis steamed rice dengan menggunakan berbagai rempah-rempah, ada potongan daging kambing kecil-kecil, dan bagian yang terlezat menurut orang Iran, adalah kerak-kerak nasi di dasar panci.
Cara memakannya, nasi tersebut dimakan bersamaan dengan original yogurt. Saat awal disajikan ini, saya sempat kaget banget. HAH? Makan nasi pake yogurt?? gimana ceritanya coba???
akhirnya, ya udah deh, saya coba. TERNYATA, rasanya enak banget!!! tandas juga satu piring nasi dan satu mangkok yogurt. Pengen juga sih nyobain itu di Jakarta, tapi ... nggak yakin rasanya bakal sama dengan yang Zohre dan mamanya buat. Beberapa hari setelahnya, saya baru tahu, kalau makanan Iran itu di Malaysia sangat mahal. Waah, saya merasa beruntung sekali dapat mencobanya secara cuma-cuma. :)

Sore harinya, kami izin keluar, Zohre tidak bisa ikut kami karena masih ada banyak tugas. Kami ke Midvalley, sebuah mall yang katanya lagi happening, saat sedang di Stasiun Monorail Serdang, saya bertemu kembali dengan seorang gadis sekolahan, sebelumnya saya sudah bertemu dengan dia saat tiba pertama kali di St. Serdang. Entah jodoh atau kebetulan, kami bertemu kembali dalam satu gerbong.
Tanpa berpikir panjang, saya langsung menyapa dia, dengan tingkat kepedean yang tinggi. "Hi! we meet again"
dan dari sebuah sapaan, hingga bergulir ke percakapan-percakapan ringan, Tiba-tiba, di tengah percakapan, Shada, nama gadis itu, tertarik untuk bergabung bersama kami ke Midvalley. What? hari itu sudah malam, dan dia masih pakai seragam sekolah, bukannya saya nggak mau dia bergabung, tapi kalau saya jadi dia, saya pasti males banget, lagian ngapain juga ikut orang asing yang baru kenal? kalau dia diapa-apain sama kita gimana? (well, itu nggak mungkin terjadi sih). Kami baru bertemu gitu lho, dan aneh rasanya kalau tiba-tiba ia menawarkan diri untuk bergabung, sesuatu yang belum biasa untuk saya.
Saya memang sering bertemu orang baru dan traveling bareng mereka, tapi untuk kasus yang satu ini saya rasa agak ganjil.
saat saya tanya. apakah orangtuanya tidak mencarinya kalau dia pulang malam? dia bilang orang tuanya nggak peduli. waduh parah!
belakangan saya baru tau, katanya sih, desas-desusnya, remaja-remaja labil Malaysia tipe-tipenya kayak gitu, suka nggak pulang ke rumah, malah keluyuran. Serem yak?

oke, di Midvalley, pas saya lihat, ya elah, ini mah sama aja kayak mall-mall lainnya, setara sama Grand Indonesia dan kawan-kawan se-per-mall-an. Apasih!
Agak males sih, cuma ada yang bikin saya senang, karena kami di sana akan bertemu Vini (teman lama saya, kami baru pertama kali bertemu tahun 2007 di Singapore, dan ini adalah pertemuan kedua kami), Amanda (cewek Australia, yang baik hati itu), dan Bin (cowok cina malay, baru pertama kali ketemu).

Kronologisnya begini,
kami bertemu Amanda, dia baru pulang kerja. Seneng banget ketemu dia lagi. Setelah itu, datang Bin. Ini pertama kalinya ketemu dia, sebelumnya kami ngobrol hanya lewat FB. Kesan pertama saya sama Bin, dia ngomongnya cepet banget, tapi lama-lama terbiasa juga. Karena malas keliling-keliling mall, kami duduk di foodcourt, si Amanda kebetulan mau makan malam. Tak berapa lama, Vini datang. Wah, komplit semua!! Shada, Vini, Amanda, Bin, dipertemukan karena saya :) hahaha saya pernah bilang ke Atha, kalau teman saya itu saking banyaknya, dari berbagai macam jurusan, kalau dikumpulin bisa bikin konser. Hahah PD abis!

kami berdiskusi banyak hal, wah ramai banget deh perdebatannya. Seru!

tim debat kami
Dzi, Manda, Alfi, Vini, Shada, Atha
Waktu semakin malam, dan kami harus berpisah. Saya sedih saat harus berpisah dengan Amanda dan Vini, mereka orang yang asyik banget. Saya bakal kangen berat dengan mereka.

Sepulang dari Midvalley, kami bertiga, Atha, saya dan Dzi, mampir ke resto India muslim. Ada satu jenis es yang porsinya jumbo banget, namanya Ice ABC,
ABC Ice
segala rasa ada di es ini, segala buah juga ada, enak banget, dan hanya RM4, itu pun satu gelas untuk bertiga, dan sampai akhir pun kami tidak kuat untuk menghabiskannya, karena porsinya begitu banyak.

Sewaktu kami kembali ke tempat Zohre, dia baru aja menyelesaikan tugasnya.
    

ini hasilnya, dia menggambar ini cuma butuh tidak kurang dari 30 menit. Waaah salut banget! Di rumahnya juga ada beberapa lukisan kanvas yang gambarnya daleeeeem banget, benar-benar seperti maestro. Zohre memang seorang pelukis berbakat. Darah seni memang mengalir dalam keluarganya. Kakak perempuannya aja jago mengukir kayu, Zohre memperlihatkan kepada saya kotak kayu cantik hasil ukiran kakaknya. Keren.

Sebenarnya saya masih ingin berkenalan dan bincang-bincang lebih lanjut dengan Zohre, apa daya, pagi-pagi kami harus berpisah. dia ada kelas dan kami ada janji dengan Bin.
with Zohre :)


Pengalaman hosted in Iranian was so unforgettable moment. Mengajarkan saya banyak hal. Dan setelah ini, saya siap untuk menerima pengalaman-pengalaman baru lainnya.

Sampai jumpa Zohre, suatu saat saya ingin membalas keramahan dan hospitality-mu.

Apa yang terjadi pada saya di hari keempat di Petronas Tower? Yuk mampir baca ini.
Rincian biaya selama di KL, bisa baca di sini.

foto-foto selama hari ketiga bisa ngintip di sini.

Thursday, January 19, 2012

Malaysia Trip Day 2nd: Mallaca to Remember

Hallaah apa pula judul tulisan satu ini.. :)

PANIK!
Begitu bagun pagi, sekitar jam 8 pagi. Kondo Zaki tampak hening sekali. Semua orang sedang tidur. Zaki tidur di kamar sebelah. Dan pagi-pagi ada sebuah pikiran yang mengusik otak saya, "waduh mampus, ini udah jam 8 dan tidak ada tanda-tanda tuan rumah akan bangun dalam waktu yang singkat. Bagaimana ini? Padahal kami harus ke Melaka pukul 11. Kacau!"

Atha sudah senewen sama saya. Dzi diam saja. Wah, begini nih kalau kami semua sedang risau. Salahnya kami, semalam kami lupa bilang apa agenda kami. Dan si Zaki itu tidak mengajak kami ngobrol lebih banyak, makanya kami tidak bilang rencana kami mau ke Melaka pagi-pagi. Kalau sudah terlajur seperti ini bagaimana?? Pusing yang ada. Mau bangunin tuan rumah, nggak enak hati. Kalau nggak dibangunin, kami-nya yang rugi.

Kenapa kami harus ke Melaka pagi-pagi sih?
Jadi, ada satu teman CS, kirim pesan ke saya nawarin tumpangan untuk ke Melaka, kebetulan dia ada rapat di KL pagi-pagi, dan jam 11-an siang dia akan balik lagi ke Melaka. Kesempatan emas ini harus kami ambil dong? pertama, kami bisa mendapat kenalan baru. Kedua, kami jadi mengirit ongkos transportasi. Keren kan?

Tapi masalahnya, si tuan rumah belum bangun juga, kami menunggu sampai jam 10. Sempat kami berpikir untuk meninggalkan kondo tanpa pamit. Tapi kami sadar, kami membawa nama bangsa, kami tidak boleh bertindak tidak sopan seperti itu. Kami sadar.

Setelah sms-an sama Rafi, teman yang memberikan tumpangan, saya laporkan kondisi kami saat itu. Dia mengerti dan memberi kelonggaran waktu hingga jam 12 siang. Kami semakin tidak enak kepada kedua belah pihak, kepada Zaki dan Rafi. Kami tidak mau membangunkan Zaki, dan tidak mau membuat Rafi menunggu. Serba susah.

akhirnya, setelah dialog dan debat yang cukup alot dengan Atha dan Dzi, saya, sebagai orang yang membawa mereka ke tempat ini, mengambil keputusan untuk membangunkan sang tuang rumah pukul 10. 45.

"Tok.. tok.. tok.." ketuk saya pelan sekali. Takut. Semenit kemudian tidak ada respon.

"TOKTOKTOKTOK" ketuk Atha bersemangat. Belum ada semenit, sudah ada respon. Cowok ganteng itu keluar dengan mata yang masih ngantuk. Tetep aja ganteng.

"Whats up?" bulu matanya yang panjang terbuka perlahan. HEY ALFI, FOCUS!!!

oke, balik ke masalah kami, saya sempat agak terpesona sama ketampanan si Zaki ini. hehe maaf. Kami utarakan maksud kami. Dan Zaki bilang okay. Segera aja kami ngacir keluar dari kondo.

Puji Tuhan si Tuan Rumah nggak marah ketika kami bangunkan. Kami sudah takut saja.
Sarapan kami di hari kedua di kedai Mamak, yah konsepnya self-service kalau boleh dibilang menyerupai warteg. Kami temukan kedai ini di seberang kondo, yang makan di situ rata-rata supir-supir. Ternyata, yang jualan di kedai adalah seorang ibu asal Indonesia, tapi logatnya sudah Melayu sekali.
Sarapan saya pagi itu adalah nasi dan telor ceplok, cukup RM2 saja.

Tempat janjian kami adalah di seberang mall Times Square. Dari St. Monorail Titiwangsa kami berhenti di St. Imbi. Tidak sampai 10 menit kami duduk di halte bus di St. Imbi. Mobil Rafi sudah berhenti di depan kami.

Rafi. Sedikit informasi: Dia adalah seorang India-Muslim, seorang fotographer profesional untuk berbagai media, seorang pengusaha ini dan itu, punya banyak bisnis, pengelola beberapa hostel, dan masih banyak lagi.

Kami memulai perkenalan kami dengan Rafi di dalam mobil sedannya. Kami membicarakan banyak hal. Politik, sejarah, kehidupan, tempat wisata, dan banyak lagi. Seru sekali bisa berkenalan dengan Rafi, dia memberikan kami banyak inspirasi dan nasihat-nasihat bijak. Saya kagum, salut, dengan pengalaman hidupnya, penuh dengan kerja keras hingga dapat menjadi orang yang sesukses sekarang. Big applause for him. We are very lucky to meet him in Malaysia.

Setelah bertemu Amanda, Katie, Zaki, Jini, dan Rafi, mereka semua orang-orang baru, mereka sempat menjadi stranger bagi kami. Setelah melalui perkenalan dengan mereka, saya selalu mengucapkan terimakasih kepada Tuhan, karena kami selalu dipertemukan dengan orang-orang baik hati dan hebat.

Perjalanan dua jam bersama Rafi tidak terasa membosankan. Malah diskusinya seru banget. Rafi selalu tahu mengisi waktu-waktu sepi saat kami kehabisan ide untuk ngobrol. Seru banget!

MELAKA
begitu memasuki area negara bagian Melaka, Rafi langsung dengan sigap menjelaskan kepada kami, "yang di sana itu.. inii, yang itu ,, ini... yang bangunan hijau itu sudah ada sejak, ....."
Rafi tahu persis kota kelahirannya. Dia tahu banyak hal tentang Melaka. Coba saya, tahu apa tentang Yogyakarta? bah. Zero. Tahu apa juga saya tentang Jakarta? well, saya lumayan tahu lah kalau ngomongin Jakarta.

Yang membuat saya salut, Rafi tahu A letaknya dimana, atau A itu tempat apa, dia juga tahu sejarah dan perkembangannya. Misalnya tahun sekian dulu pernah jadi apa, tahun sekian pernah terjadi peristiwa apa di sini. Gila, keren banget gak tuh?

CENDOL MELAKA

Ketika sampai di kawasan kota tua Melaka, Raffi mentraktir kita cendol Melaka. Ada nilai hospitality yang tinggi dalam dirinya. Hal itu yang membuat saya kagum. Pengalaman kami menikmati semangkuk cendol dingin di tepi sungai Melaka membuat saya mendapat pelajaran baru mengenai kehidupan berbangsa dan berbudaya.

Cendol ini yang jual ternyata temannya Rafi. Sepertinya Rafi kenal semua orang yang ada di kota ini deh. Setiap ketemu orang, ada aja yang nyapa Rafi. He is so famous, I guess :)

Kalau kalian sempat berkunjung ke Melaka, ayo mampir dulu ke kedai cendol ini. Letaknya ada di pinggir sungai Melaka dan seberang Gereja Pink Melaka yang terkenal itu. Kalian akan segera mudah menemukannya kok.

Berkat Rafi pula, kami dipertemukan dengan Sayang-Sayang. Hostel yang menurut saya hommy banget. Murah, bersih, dan yang paling penting hommy. entah kenapa. Review mengenai hostel ini bisa dibaca di tulisan satu ini. Kami berpisah dengan Rafi di hostel, dia masih ada banyak urusan yang harus dikerjakan. Dia janji untuk bertemu kami lagi waktu malam hari.

ANOTHER NEW FELLOWS
Setibanya di Melaka, saya segera SMS satu cowok Portugis yang bernama Nuno. Saya tahu dia dari postingan saya di CS Melaka. Dua hari lalu, Nuno mengirimi saya SMS, mengajak bertemu di Melaka. Saya diminta untuk menghubungi ponselnya ketika saya tiba di Melaka. Saya beritahu bahwa kami telah check-in di Sayang-Sayang.
Saat sedang cuci muka, saya mendengar ada tamu lain yang baru masuk hostel ini.
Dari atas lantai dua, saya melongok ke tangga bawah. Ada tiga bule sedang menuju ke lantai dua.

DEG! kaget dan deg-degan. Tiba-tiba cowok berambut ikal yang jalan paling depan teriak,

"Hey, Alfi!"
dengan sok cool saya membalas, "SO, you must be NUNO!"
tebak apa yang terjadi?

DIA, NUNO, MEMELUK SAYA, dan MENCIUM PIPI saya dengan bibirnya. Janggutnya yang baru tumbuh itu memberikan sensasi yang menggelitik. Menyadari kekikkukan saya, Nuno bilang, "That is an European greeting." (ditambah dengan senyumannya yang ala Casanova)

Sebenarnya sih saya nggak masalah ada bule baru kenal tiba-tiba nyosor pipi saya, sambil pelukan erat segala. Itu biasa. Apalagi si Nuno ini boleh dibilang kategori yang lumayan punya tampang. HAHA *ganjen*. Dan anehnya, Nuno tidak melakukan peluk dan cium kepada dua travelmate saya, Atha dan Dzi. Saya jadi inget seseorang. dan entah kenapa saya langsung punya firasat, wah tanda-tanda nih... (tanda apa? baca terus tulisan ini!)

Selain Nuno, ada 2 bule lagi, satu cewek Portugis namanya Ana, dan satu cowok Prancis namanya Arthur. Ana dan Arthur ini travelmate, si Nuno berhasil menemukan mereka di dalam bis. Bisa aja ya tuh orang?

EKSPLORASI MELAKA
Hal pertama yang dilakukan adalah mencari tempat makan siang. Ana maunya makan masakan peranakan Cina-Portugis. Setelah muter-muter, ternyata setiap Senin, banyak restoran, toko-toko tutup. Sekalinya ketemu, harga nggak cocok buat kantong kami. Ternyata si Ana ini bule yang hemat, dia tidak akan segan-segan berdebat soal harga. Keren banget deh. Kata Atha, si Ana ini mirip orang Batak. Akhirnya, pilihan makan siang kami jatuh pada sebuah rumah makan milik etnis Tionghoa. Dekornya sengaja dibuat seperti ruang makan, ditambah dengan pajangan-pajangan bertuliskan huruf mandarin. Si Ana dan Arthur yang ternyata mahasiswa bahasa Mandarin di Cina, mulai mempraktekan kebolehannya. Mereka mencoba membaca tulisan-tulisan itu.

Saya, Atha, dan Dzi, memesan dua piring nasi goreng untuk bertiga. Bule-bule memesan bihun goreng, capcay, dan ayam madu. Menu rumah makan ini tidak jauh berbeda dengan menu yang mama saya sering masak di rumah. Bagi saya menunya biasa saja, tapi bagi ketiga bule itu menunya terdengar eksotis.

Nuno, Arthur, Ana, saya, Atha, dan Dzi 


Setelah kenyang kami lanjut berjalan kaki, lihat bangunan-bangunan tua museum-museum. Di tengah jalan, kami harus berpisah dengan Ana dan Arthur. Mereka harus ke KL. Sedih juga sih karena kami baru kenalan sebentar tapi mereka sudah mau berpisah. Kami berjanji akan bertemu mereka lagi di KL.

Tinggal lah Nuno dan tiga gadis kece ini. Kami berempat mulai melanjutkan penjelajahan. Formasi jalannya, saya dan Nuno jalan berdampingan di baris depan, Atha dan Dzi di belakang. Posisi ini memberi saya peluang yang lebih banyak untuk berbincang-bincang dengan Nuno. *modus* Kesempatan ini pula kami gunakan untuk saling mengenal dan bertukar cerita. Ada banyak hal yang saya dapatkan dari seorang Nuno. Terlepas dari kekonyolannya, Nuno punya sisi serius, dia mengatakan banyak hal yang membuat pikiran saya tercerahkan. Ditambah senyum mempesonannya itu membuat saya selalu tersenyum :) *emang dasar cewek gajen* Dan di banyak kesempatan si Nuno ini sering menggoda saya, daripada Atha dan Dzi. ada lah yang selalu dikatakan untuk menggoda saya. (ciee seneng tuh digodain diaa..) *blushing*
He tried to get me on the water. how crap!


Well, buat Atha dan Dzi kalau kalian baca tulisan ini, saya gak tau apa pendapat kalian tentang saya saat itu. (kalo baca tolong tinggalkan komen yaa)

Sekitar jam 5 sore, kami bertemu Rafi lagi di depan Christ Church Melaka. Kali ini Rafi membonceng sebuah motor gede. dan pakaiannya jauh lebih santai daripada tadi siang.
Saya, Rafi, Atha, Nuno, dan Dzi

BEROMANTIS RIA DI SEPANJANG SUNGAI MELAKA
Kami memutuskan untuk mencoba Melaka River Cruise.Kami sengaja naik cruise ini saat hari sudah gelap, karena kami dapat menikmati udara sejuk dan banyak lampu-lampu indah yang dinyalakan, memberikan sisi romantis dari kota ini. Harga tiketnya RM10 per orang. Durasi perjalanan untuk mengelilingi Melaka, sekitar 1 jam. Di dalam Cruise diputar sebuah kaset yang menceritakan sejarah Melaka. Maaf saya kurang begitu menyimak, pertama bahasa Melayunya aneh banget, kedua bahasa Inggrisnya buat saya kurang jelas, ketiga, di sebelah saya ada si Nuno (terus kenapaaah???), keempat, saya lebih memilih ngobrol sama Atha dan Dzi.
lalalalala....

Saya sangat menikmati perjalanan di cruise itu. Pejamkan mata, hirup udara segar, dengarkan suara burung-burung yang bersembunyi di pepohonan, buka mata, lihat disekeliling, perhatikan turis-turis yang berjalan di sisi sungai, perhatikan bangunan tua, perhatikan lampu-lampu cantik itu, dan dengarkan suara alam. SO ROMANTIC!
Sesaat kalian akan menemukan kedamaian dalam perjalanan kalian.

Hari makin larut, jam 7 malam toko-toko kebanyakan sudah tutup. Seperti kota hantu. Tidak ada kegiatan lain. Aktivitas penduduk lokalnya sepertinya hanya sampai jam 7 malam. Ada beberapa cafe dan bar yang masih buka, tapi dipenuhi turis-turis yang ingin mendengarkan musik dan minum bir. Sisanya, zonk.

Sewaktu kami melewati salah satu cafe yang menyetel lagu dansa, tiba-tiba saja, secara spontan si Nuno mengajak saya berdansa, memegang pinggul saya. Sejenak, kegilaannya ini membuat saya kaget, tapi akhirnya saya mengikutinya berdansa!! HAHA ini menurut saya sesuatu yang romantis :) YA ampun ini bule!! *geleng-geleng tapi seneng*
dinner with a Portuguese guy

Rencananya setelah naik cruise kami mau gabung sebuah gathering yang diselenggarakan ambasador CS Melaka. Tapi, kami akhirnya lebih memilih mencari makan malam. Saya lupa mencatat makan malam saya di Melaka. Tapi sumpah nasi dan ayam crispy itu enak banget! Buat saya itu makanan yang terenak selama saya di Malaysia, dan harganya pun tidak mahal. Pengen ke sana lagi cuma buat makan nasi ayam itu. :)

RAINBOW TROOPS IN MELAKA
belum cukup menjelajahi Melaka dengan cruise, setelah mengisi tenaga, kami memutuskan untuk menyewa sepeda. Saat itu sudah jam 10 malam. Penyewaan sepeda sudah tutup. Berkat negosiasi Nuno, akhirnya kami berhasil mendapat pinjaman sepeda dari Jalan-Jalan Hostel, kami diberi waktu satu jam oleh pemiliknya. Harga sewa normalnya RM3, karena kami tawar akhirnya berhasil mendapat harga RM2.

Saya serasa berada di film Laskar Pelangi. Pemandangannya persis seperti di film tersebut. Kami tertawa riang sambil mengkayuh kereta angin (aka sepeda). Aaaa momen-momen yang menyenangkan.

Entah karena kami berada di Chinatown Melaka, atau karena akan menyambut Tahun Baru Cina, dekorasi jalanan di area Jongker Street dan sekitarnya dipenuhi lampion. Indah sekali.

Di tengah acara bersepeda ini, tiba-tiba si Nuno mengarahkan rombongan kami ke sebuah lapangan besar yang berisi orang-orang sedang duduk-duduk nonton bola. Sontak saja, mata mereka langsung tertuju pada keempat pengendara sepeda yang aneh itu. Saya jamin mereka menganggap kami segerombolan turis yang aneh.

Wah, betis lumayan kencang juga setelah keliling-keliling dengan sepeda. Kami segera menuju hostel untuk mandi dan beristirahat.
Lucunya, saya dan Nuno mandi berbarengan.

Weits, jangan kaget dulu! haha tapi ini lucu banget, Kami sama-sama berada di kamar mandi yang bersebelahan. Masuknya bareng-bareng, keluarnya bareng-bareng. Lucu yaa :) *apasih*
Di lantai dua hostel itu, ada satu ruang duduk-duduk, ada banyak stop kontaknya, di sana kami bisa men-charge HP atau laptop. Saya duduk-duduk di sana, bersama Atha, dan beberapa traveler lain. Si Atha sibuk sama laptopnya dan saya sibuk menghitung, si Dzi lagi di kamar mandi. Saat saya sedang hitung-menghitung pengeluaran kami hari itu, si Nuno mendekati dan duduk di sebelah saya. Kami mengobrol lagi dan lagi, topiknya random banget.
dan setelah agak lama, kami hening. dan kami saling mengucapkan perpisahan selamat malam. Dan adegan so sweet lainnya, ketika dia bangkit berdiri, mengusap rambut saya dengan lembut. WELL IT WAS SUCH IN HEAVEN!! and he did say something sweet to me.

Entah kenapa malam itu saya tidur nyenyak sekali, sampai saya bangun pagi-pagi.
Saya bingung harus ngapain, Atha dan Dzi belum bangun. Akhirnya setelah mandi, saya tidur-tiduran di sofa depan kamar sambil makan coklat.

TIBA-tiba...
ada jari yang masuk ke telinga saya. Kalian udah pasti bisa menebak jari siapa? haha ya. dia. Begitu ya ucapan selamat pagi ala Portugis. Sumpah ini konyol banget. Saya langsung bangun dari sofa, dan "uhm, hi!" terus saya masuk ke kamar.

Saat orang-orang baru bangun saya sudah siap. Entah kenapa perasaan saya kayak campur aduk. Senang campur galau. Saya turun dan keluar, duduk-duduk menikmati terik mentari pagi.
Agak lumayan lama saya duduk sambil menatap sungai Melaka, dan mendengarkan lagu-lagu sad-romance dari handphone. Beberapa kali lewat beberapa turis asing menyapa saya sambil berkata "Good Morning!"
wow, I felt such a peace in here!
Beberapa waktu kemudian Atha dan Dzi menyusul saya menikmati pemandangan itu.
dan tak lama Nuno juga menyusul saya di belakang hostel. Tau apa yang kali ini dia lakukan??
Dia mencoba mengagetkan saya dengan menggendong saya dari belakang, tanganya yang besar mengangkat pinggang saya, dan tangan itu gemetar, atau bergetar? entahlah :) intinya saya menemukan ada getaran dalam gendongannya itu.
last picture in Melaka

Kami sarapan bersama dan akhirnya waktunya berpisah. Nuno mengantar kami hingga halte. Sebelum berpisah, orang pertama yang dia peluk adalah saya. Dan kali ini, pelukannya lebih parah. dan tiba-tiba saja tangannya sudah memeluk saya dengan erat. Lebih erat dan ciumannya lebih lama dari salam perkenalan yang kemarin. Dan. ada sesuatu dalam pelukannya yang membuat saya sontak kaget. Ada lah pokoknya ;)

setelah memeluk saya, dia memeluk Atha, dan dia menawari Dzi pelukan, sayangnya ditolak sama Dzi. Aduh, nyesel tuh :)) yang bikin saya tambah sumringah, kata Atha, pelukan yang diberikan Nuno kepada saya jauh lebih mesra daripada yang diberikan pada Atha. Aduuh gimana nggak bikin saya cengengesan sendiri tuh?

well, kalau kalian pikir Nuno tipe cowok bule yang cari-cari kesempatan dengan cewek-cewek, kalian salah. I guess I know him a bit, and he is not kind of person like that. I believe so. Saya cukup bisa lah kalau soal membedakan mana yang jerk dan mana yang beneran turns into you.

mungkin saya agak kepedean, tapi saya percaya he is into me.
dan benar saja, setelah kepulangan saya ke Jakarta, saya mendapatkan reference yang dituliskannya "She is very sweet,and a very interesting person and i had the sensation that could travel the world with her without having a problem!i will miss her!"


after all of this, after one day and one night, how could I forget this beautiful moment in Malacca? Mungkin ini yang saya cari dalam sebuah perjalanan, bertemu orang baru, merasa terhubung, dan setelah itu berpisah dan mencari sesuatu yang baru.

galau time in the morning: the best spot for it.
yah, begitulah manusia, mereka dipertemukan dan kemudian dipisahkan. Bulan April, Nuno ke Indonesia. Kita tunggu saja kisah berikutnya :)




mau lihat album foto selama di Melaka, kunjungi ini
mau tau pengalaman hari pertama di KL, baca ini.
Penasaran perjalanan hari ketiga di Malaysia, ayo ke sini. 



Malaysia Trip Day 1st: Central Market, Petaling Street, Chinatown, Pasar Seni, Bangsar Night Market, Titiwangsa

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. "We are going to Malaysia!!!" sorak saya gembira kepada dua travelmates, Atha dan Dzi. Walaupun kami sudah berada di bandara sejak dini hari, ternyata kami adalah salah tiga dari penumpang yang last minute calls.

Lari-lari naik ke pesawat sambil cekikikan.

Kenapa? karena kami tidak tahu bahwa harus mengurus tetek-bengek imigrasi dulu sebelum terbang ke KL. Itulah yang membuat kami lari terbirit-birit menuju pesawat. Belum lagi, saat pemeriksaan, saya tertangkap membawa pisau. Aduh Alfi, sudah tau dilarang membawa senjata tajam, kenapa masih dibawa juga?

Rencana perjalanan awalnya seperti ini:
8 Jan: ke Putrajaya bareng Nina dan Bangsar Night Market bareng Amanda.
9 Jan: ke Melaka bareng Rafi
10 Jan: keliling Kuala Lumpur City Center, having a party, nginep di condo Zohre, ke Sunway ketemu Vini
11 Jan: Batu Caves, and having a party at night
12 Jan: shopping time in Petaling street and around that.

Lihat kan? saya tidak merencanakan sesuatu yang mendetail, kami hanya membuat kerangka konsep tempat tujuan kami, masalah kecil-kecilnya belum kami pikirkan lebih lanjut.

Apa yang terjadi, saat kalian hendak lepas landas, tiba-tiba orang yang kalian harapkan membatalkan janji?
Teman orang Malaysia, Nina,  tiba-tiba membatalkan janji. Saya sempat bingung sejenak harus mengganti rundown, tidak mungkin ke Putrajaya dengan membawa-bawa tas pakaian  yang berat ini. Untuk keliling  Putrajaya enaknya dengan mobil pribadi, agar dapat berkeliling-keliling dengan puas. Kata Fahmi, teman sekelas, kalau jalan kaki bisa bikin gempor. Di hari pertama di KL rencana pertama kami sudah gagal. :(

Masalah bertambah, ketika host kami pada hari itu tidak juga membalas SMS. Waduh, kami akan tidur di mana malam itu? "Ya, udah dipikirin sambil jalan aja," begitu kata saya. 

lihat wajah sumringah kami :)

Pernerbangan kami dari pukul 6.25 WIB hingga 9.25 (waktu KL), sebelum lepas landas kami bertiga berdoa dahulu menurut kepercayaan kami masing-masing. Kami berdoa agar segalanya dimudahkan dan dijauhkan dari orang-orang yang berniat jahat. Nggak di kereta ekonomi, nggak di pesawat, walaupun penerbangan hanya butuh waktu 2 jam, saya berhasil untuk tidur pulas di kursi yang sempit itu. 




Tiba-tiba, TARAAA sampailah kami di Negeri Jiran!!
Sekilas mata memandang, ooh ini toh yang namanya Malaysia. LCCT nampak sepi jam 10 pagi. Tidak susah mengurus segala tetek-bengek-birokrasi di bandara LCCT. Semua berjalan mulus. 


Dan apa rencana kami setelah ini?
Host kami belum juga membalas sms saya.
Untung, saya menyimpan nomor ponsel Amanda, seorang perempuan Australia yang saya kenal melalui CS. Untungnya pula, Amanda ini segera membalas sms-sms kami.
Saat di bandara, Atha sudah membeli sim card nomor lokal, sehingga hal ini memudahkan kami untuk online dan sms-an dengan teman-teman kami di KL. Jangan ragu, di LCCT banyak gerai-gerai provider telepon yang akan melayani kalian dengan maksimal :)

Setibanya di LCCT, kami berunding singkat. Singkat saja: Hubungi Amanda, tanya apa plan untuk hari ini, siapa tahu kami bisa gabung dengan dia. Tanya Amanda apakah boleh menitip tas-tas kami di tempatnya. Awalnya kami agak sungkan untuk meminta tolong Amanda karena kami belum pernah bertemu dia.
Kami begitu gembira ketika Amanda menyetujui permintaan-permintaan kami. Sudah cukup kami berlama-lama di LCCT, tiba saatnya untuk menjelajah KL, destinasi pertama adalah Bangsar, tempat tinggal Amanda.

Bagaimana kami sampai ke Bangsar?
ah, gampang saja. 
Pertama, saya pilih bus Aerobus menuju KL Sentral. Bus ini menyerupai bus Damri yang ada di Jakarta, yang menghubungkan bandara dengan tengah kota. Kalian akan menemukan konter tiket Aerobus di pintu keluar LCCT, tidak susah menemukannya.

Satu jam perjalanan dari LCCT ke pusat kota, kami diturunkan di KL Sentral. Setibanya di KL Sentral, kami sempat bingung? tempat apa ini? kok gelap? Oh, ternyata kami diturunkan di basement. Dengan berbekal kertas map yang saya print dari rumah (sebenarnya tidak perlu nge-print juga, sewaktu di LCCT kalian bisa mengambil peta KL di bagian Tourism Office Center). Dari basement KL Sentral, naik eskalator. Kalian akan menemukan sebuah mall biasa yang cukup ramai orang berlalu-lalang. Cari transportasi yang kalian tuju.  Segera kami mencari loket tiket RapidKL menuju Bangsar (lihat Kuala Lumpur's Transit Rail Map, Bangsar terletak pada garis merah). Naik RapidKL untuk pertama kalinya membuat saya mengenang trip saya ke Singapura tahun 2007 lalu. Bersih, cepat, dan selalu ramai (walaupun tidak seramai kereta ekonomi Jakarta-Bogor). Bagi saya, kepadatan kereta ekonomi Jakarta-Bogor tidak ada yang bisa menandinginya (mungkin India bisa).

Dari stasiun RapidKL Bangsar, kami segera mencari bus menuju Bangsar Shopping Center (BSC). Amanda menyarankan kami untuk naik taxi saja, karena dia tidak tahu bus nomor yang lewat dekat areanya. Saat itu kami tidak tahu medan, sejauh apa Stasiun Bangsar ke BSC, akhirnya kami bertanya-tanya kepada orang sekitar. Kami mendapat jawaban, yaitu bus U87.
Menunggulah kami di halte bus di bawah stasiun Bangsar. Lama sekali bus itu tak kunjung datang, hingga akhirnya datang pula. Ini adalah pengalaman pertama saya naik bus kota di KL, busnya ber AC, seperti bus Transjakarta, bagi penyandang cacat diberi tempat khusus. Setelah beberapa hari di KL, saya mengamati rata-rata bus KL seperti itu. Wah, kapan ya bus kota di Jakarta peduli dengan penyandang cacat?

Sistem pembayarannya dilakukan ketika kita naik bus, kasih aja uang pas ke supir busnya, kalau punya kartu bisa dipakai juga, nanti kita akan dapat selembar kertas tipis yang berfungsi sebagai tiket kita. Bus-bus di KL tidak menurunkan dan menaikkan penumpang di sembarang tempat, supirnya tertib dan mematuhi aturan, semua orang harus naik dan berhenti di halte bus. Patut dicontoh!

Perjalanan kami sekitar 25 menit menuju BSC. Jalanan tidak macet. Saat itu pukul 12 siang, panasnya KL bukan main, saya kira lebih panas daripada di Jakarta. Belum lagi, perut kami minta diisi makanan.
Karena kami sudah berada di BSC, sebuah mall besar nan mewah, kami tidak dapat mengelak untuk tidak mencari makan di luar tempat itu. Memasuki BSC mengingatkan saya seperti berada di mall-mall di Kelapa Gading, ditambah dengan nuansa menyambut Tahun Baru Cina. 

Foodcourt  BSC bernama Blurp!, konsep dekornya seperti Urban Kitchen di Jakarta. Saat masuk foodcourt, pembeli diberi sebuah kartu, segala transaksi akan tercatat dalam kartu itu, saat keluar  foodcourt kita harus membayar sebesar tagihan yang ada di kartu tersebut. Blurp! memiliki banyak pilihan makanan dari berbagai harga, ada yang agak murah hingga yang lumayan mahal. Jelas, kami memilih yang paling murah.
Makanan pertama saya setiba di KL adalah sepiring nasi Beriyani tanpa lauk dan segelas teh tarik hangat. Nasi Beriyani semacam nasi yang diberi bumbu kari, ini adalah salah satu makanan India-Muslim di sana.
nasi beriyani


Nikmatnya bukan main, porsi nasinya sangat banyak, dan teh tarik ini adalah teh tarik pertama yang saya minum di Malaysia. Sungguh enaaaaakk!!! Total untuk makan siang di sebuah mall mewah, cukup RM 5.20.

Kami bertemu Amanda di depan cafe Dome BSC. Begitu melihat sosok Amanda, saya langsung tertarik. Dia cantik dan menarik. Terlalu seksis ya saya?  Kami segera akrab. Dan dia orang yang sangat baik dan ramah. Beruntung sekali kami bertemu dan berkenalan dengan dia. Latar belakang Amanda, dia itu baru satu minggu datang KL untuk urusan pekerjaan, dia masih kuliah di Melbourne jurusan hukum dan bahasa, topik thesis akhirnya tentang privasi publik di internet terhadap perempuan di Australia. Begitu mengetahui dia menyukai topik feminisme, saya dan dia segera bertukar banyak cerita. kalau saya cerita tentang Amanda di sini akan sangat panjang, so, the point: Amanda is very awesome).

Oke, pertama kami diantar oleh Amanda ke kosan-nya yang terletak persis di seberang BSC, sebuah kamar kos yang cukup luas, ada ruang tamu, dapur, kamar mandi di dalam, dan kasur untuk dua orang. Kami menaruh tas kami dan sedikit merapikan diri sebelum memulai destinasi pertama kami.

Your next destination is Pasar Seni.
Dari kosan Amanda, kami harus ke Stasiun Bangsar lagi.  Kami tidak naik bus kali ini, tapi naik taxi. Jangan takut, taxi di KL lebih cepat, dan harganya murah. Cukup RM5 untuk 4 penumpang. Memang sih, kalau naik taksi di KL lebih baik beramai-ramai, sehingga bisa patungan,  hehe.

petaling street
Kami naik RapidKL lagi, dari Bangsar ke Pasar Seni. Cukup jalan kaki 2 menit, kalian akan menemukan sebuah tempat yang bernama Central Market. Area Central Market dibangun sejak 1888. Awalnya adalah pasar tradisional. Sekarang fungsinya masih tetap sama, yaitu sebuah pusat belanja, yang sangat turistik, dan barang-barang yang dijual seperti souvenir, postcard, gantungan kunci, batik, wayang, tas-tas kulit, aksesoris, dll. Awalnya saya sempat agak kecewa, karena barang-barang yang dijual sama seperti di Jakarta. Hari pertama saya sudah agak kecewa, ooh cuma segini-nih KL, isinya nggak beda jauh dengan di Indonesia. Mood saya agak menurun sedikit.


setelah ke Central Market, kami berjalan-jalan ke Pasar Seni dan Central Market. Lagi-lagi kompleks ini dipenuhi dengan berbagai jenis orang dari suku bangsa yang berdagang ini-itu.
in front of Katsuri Walk, beside Central Market

Di tengah perjalanan kami, ada satu teman lain yang bergabung. Katie dari US. Sebelum bertemu, saya dan Amanda pernah berhubungan dengan Katie melalui CS KL. Kami belum pernah bertemu dengan Katie sebelumnya. Kata Atha dan Dzi, Katie ini mirip Sherina Munaf. Saya tidak terlalu banyak bicara dengan Katie, yah, kami berbincang-bincang sedikit, tapi tidak terlalu dalam, seperti saya berbicara kepada Amanda.


Grup kecil kami yang terdiri dari 5 cewek kece ini menuju sebuah candi Hindu di dekat daerah Pasar Seni, tepatnya terletak di Jalan Bandar. Sri Mahamariamman Temple. Untuk masuk ke sini tidak bayar, tapi harus lepas sepatu. Ada tempat penitipan sepatu, RM 0,20 per pasang. Mayoritas yang berdoa di sini adalah orang India. Candi ini ditemukan sejak tahun 1873, tapi kalau melihat bangunan yang sekarang, saya tidak menemukan unsur-unsur kekunoannya lagi. Patung-patung dewa-dewi dipahat dan diberi warna yang meriah. Kami berlima sempat berpikiran ini adalah candi yang baru dibangun, ternyata candi ini sudah lama ada namun telah mengalami banyak renovasi.

Bangsar Night Market
Kata Amanda sih, Bangsar Night Market itu keren. Mendengar namanya saya kebayang ada kayak pasar malam gitu, banyak yang jual makanan.
Pas sampai sana, eh belom buka. Jadi kami jalan-jalan dulu deh di Bangsar Village, sebuah mall yang sama mewahnya seperti BSC, seperti Mall Kelapa Gading.


Atha, saya, Dzi, Amanda, Katie di depan Bangsar Village
Bangsar Night Market. Semacam pasar dadakan yang dimulai pukul 5 sore, ada ikan segar, kue-kue, buah-buahan, makanan lain. Saya, Dzi, Atha beli satu martabak seharga RM 3 sebagai makan malam kami, satu martabak untuk bertiga, saya beli Pulut Udang, semacam lemper diisi abon udang. Saya dan Amanda patungan membeli rambutan, seharga RM2, karena Amanda belum pernah makan rambutan, katanya. Ternyata, rambutan di KL kulitnya keras, dan kurang manis. Rambutan Indonesi emang ga ada yang ngalahin :)
Setelah agak lelah berkeliling pasar, kami agak menghedon sedikit di sebuah kafe Papa Rich. untuk segelas minuman, dijual sekitar RM 5-7. Tempatnya oke buat nongkrong-nongkrong dan minumannya banyak macamnya. 



Oh ya, akhirnya host kami membalas sms saya, dan dia bilang sedang berada di rumah, kalau mau menginap silakan datang saja.

Langit di KL jam 7 malam sama seperti saat pukul 6 malam di Jakarta. Kami  kembali ke kos Amanda untuk mengambil tas. Kami berjalan kaki dari Bangsar Village ke BSC. Jalannya mendaki dan membutuhkan waktu 30 menit hingga sampai ke tempat Amanda. Di perjalanan saya dan Amanda banyak membicarakan tentang Australia.

Setelah makan malam di kamar Amanda, kami segera pamit dan mengucapkan terima kasih.

Host kami tinggal di area Titiwangsa. Kalau lihat di peta sih lumayan jauh dari Bangsar. Kami pilih naik taksi, dari St. Bangsar naik RapidKL menuju KL Sentral, lalu keluar jalan kaki menuju stasiun monorail KL Sentral, 500 m jalan kaki lah.

Baru kali ini kami naik monorail di KL, hampir sama seperti RapidKL, Bersih dan cepat, tidak perlu menunggu hingga 5 menit, kereta monorailnya sudah datang. SALUT BANGET sama akomodasi di KL.

Nama host kami adalah Zaki, seorang cowok Mesir yang kuliah di KL. Sebenarnya saya kurang begitu tahu kultur orang Mesir seperti apa, tapi saya tertarik untuk mencari tahu hal itu.

Sesuai petunjuknya, tibalah kami di depan Condominium Titiwangsa Sentral. Terjadilah pertemuan pertama kami dengan Zaki, tiba-tiba jantung mau copot, Si Dzi udah melirik-lirik saya aja,
Ada apa?

Ya TUHAN!! ganteng banget si Zaki!! sumpah, sebelumnya saya cuma lihat fotonya di CS, tapi ya biasa aja, ternyata aslinya emang ganteng. Parah gantengnya. Badannya besar banget,kulitnya putih bersih, bulu matanya lentik banget, kalau kami ngobrol harus pakai acara dongak-dongak segala. Agak capek sih jadinya, tapi semua itu terbayar kok ketika melihat wajah tampannya.

Zaki mengajak kami masuk ke kondonya yang baru ditempatinya selama 2 bulan. Kondominiumnya itu baru selesai dibangun 6 bulan yang lalu, jadi masih kelihatan sekali barunya. Kolam renangnya luas, ada tempat gym nya besar, semua serba baru. Dan begitu kami masuk ke kondo Zaki, hal pertama yang bikin saya kaget dan shock berat, ketika saya melihat ada banyak sepatu di depan pintu. JESUS!! dan begitu Zaki membuka pintu, terlihatlah cowok-cowok Timur Tengah yang kulitnya rata-rata hitam (beda banget sama kulit si Zaki) sedang duduk nonton siaran bola.

Mampus nih, kondonya isinya cowok semua. Gimana kalau kami, cewek-cewek, diapa-apain. Untungnya, perasaan negatif itu hanya berlangsung sebentar, kami segera bertemu satu cewek kecil bernama Jini, yang adalah housemate Zaki. Orangnya ramah dan baik. Perasaan saya agak aman sedikit. 

Zaki menunjukkan kamarnya yang boleh kami tempati. Kamarnya luas, kondonya Zaki juga luas, ada 3 kamar utama.

Setelah itu, si Zaki ninggalin kami. Dia asyik dengan kawan-kawannya untuk menonton bola. Awalnya saya berharap akan ada percakapan yang panjang bersama dia, tapi apa boleh buat, dia terlihat sibuk. Jadi kami bertiga berkutat di kamar sambil wi-fi-an dan berdiskusi kecil tentang trip selanjutnya.


Malam itu kami mengakhiri hari yang panjang ini dengan mandi. Hari pertama sudah membuat kami lelah. aah! Tidur pun jadi sangat pulas.

Ketika bangun, kenyamanan kami berganti menjadi kekhawatiran. Baca catatan perjalanan saya hari kedua di Malaysia di sini.

Untuk melihat album foto kami di hari pertama, bisa ini.
Untuk mengetahui rincian biaya yang kami keluarkan selama di Malaysia bisa baca ini.

Detik-detik Sebelum Trip ke Kuala Lumpur


Sebelas bulan yang lalu, saya dan ketiga teman sekelas membeli tiket Air Asia Jakarta-Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur-Bandung.

Saya tidak memiliki kepentingan khusus, mengapa saya harus ke Malaysia.
Alasan utamanya adalah harga tiket PP yang menggiurkan, yaitu Rp275.000. See? How I could refuse it??

Jujur, saya tidak terlalu tertarik dengan Malaysia. Ada apa sih di sana? Rasa-rasanya sama saja dengan Jakarta. Well, nggak ada salahnya juga sih saya mencoba peruntungan ini? Lumayan untuk menambah pengalaman.

Sebelas bulan berlalu dengan begitu cepat. Tugas menumpuk, UAS menghantam. Tidak ada banyak waktu untuk memikirkan liburan. Setiap hari otak saya selalu dibebani oleh tugas, makalah, UAS, dan miniskripsi. Sedih ya? 


Tidak ada persiapan khusus untuk trip yang satu ini. Kalau kalian membaca trip saya ke Malang 2011, saya mempersiapkan trip itu satu bulan sebelum keberangkatan. Entah, kata Malaysia membuat saya menjadi kurang tertantang. Bahkan di jam-jam terakhir saja saya masih belum memikirkan destinasi pasti yang harus dikunjungi selama di Malaysia. Saya rasa hal ini menarik juga. Ada kalanya kita tidak perlu terlalu mendetail memikirkan itinerary perjalanan, biarkan trip itu berjalan dengan sendirinya. Biarkan alam menuntun jalan kita. Biarkan Tuhan yang mengatur segalanya.
Tanpa persiapan yang matang, jangan takut,  pasti akan selalu ada jalan keluar untuk para traveler yang mau berusaha. Setuju?


Hal-hal yang saya lakukan sebelum bertandang ke Kuala Lumpur:

1. Cari-cari teman via internet (5-3 hari sebelum keberangkatan), gunanya untuk mencari informasi, seperti tempat apa yang harus dikunjungi, transportasinya bagaimana, dll.

2. Kirimkan proposal menginap di tempat tinggal teman di KL (kalau ada kenalan). Lumayan kan mengirit ongkos akomodasi. Kalau tidak ada kenalan, cari informasi hostel-hostel murah saja.

3. Tukarkan Rupiah menjadi Ringgit.

4. Berkemas pakaian. 
Waktu pertama kali Bayu lihat tas saya, "Lo mau ke mana sih?" Untuk trip kali ini saya tidak menggunakan tas backpacker. Ngapain juga bawa tas gemblok kalau mau jalan-jalan ke tengah kota?

5. Cetak map dan tulis semua informasi yang kita dapat di notes yang bisa dibawa kemana-mana.

Saya keluar rumah satu hari sebelum penerbangan. Saya takut ketinggalan pesawat karena penerbangan saya pagi-pagi. 

Jadi malam minggu, dua jomblo (Saya dan Bayu) memutuskan untuk mencari angin segar. Kami berencana untuk nonton, dinner, minum-minum dan langsung ke bandara. 


Ternyata Tuhan berkehendak lain, langit hujan deras, Bayu terjebak macet, jam menonton terpaksa diubah jadi midnight, sesi minum-minum batal, dinner-nya cari tempat yang terdekat dari bioskop, yaitu McD Cikini. Setelah urusan perut selesai, kami berdua segera meluncur ke bandara. Makasih ya Bayu buat tumpangannya (sama mpek-mpek Palembangnya) : Maaf banget Bay, kalau saya bukan GPS yang baik.

Sekitar jam setengah 3 dini hari, saya dan Bayu tiba di Terminal 3. Tanpa banyak cing-cong lagi, saya segera mencari Atha yang sudah sejak jam 9 malam di bandara menunggu saya. Maaf ya Ta :(

Ternyata Atha sedang setengah tertidur di bangku-bangku lantai dua. Di lantai itu, hanya ada Atha, dan dua orang yang juga sedang tidur di kursi. Salah satunya ada bule yang lagi tidur, lucu banget sambil megang jam beker, hahaha takut telat kali ya?

Ada waktu beberapa jam lagi sebelum jam 6 pagi, waktu yang berharga itu saya manfaatkan untuk mencuri tidur, agar tidak terlalu lelah di perjalanan nanti. Sebenarnya ruang tunggu lantai dua itu tidak boleh dipakai untuk tidur, tapi yaa bisa aja lah diakal-akalin sama petugasnya.

Caranya? Kalau badan kalian sekecil badan saya, kalian bisa meringkuk di atas dua kursi. 

Posisinya cukup kurang nyaman, namun sukses membawa saya untuk tidur beberapa menit.

Saya terbangun ketika Dzi dan ibunya datang menghampiri kami. Setelah itu saya ganti baju dan cuci muka di toilet. Seru juga sih pengalaman nginep di bandara terminal tiga. Sepi dan lenggang. Serasa bandara milik pribadi, hehe
kosong banget kan?

my beloved travelmates :) Dzi and Atha

Semakin mendekati pukul 6 pagi, hati kami berdebar-debar. Was-was. Excited. Penasaran dengan perjalanan kami hari ini. Saya akan membahasnya di tulisan berikut ini.